ANAK BERBAKAT (KEBERBAKATAN)

 

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengembangan sumber daya manusia berkualitas yang mampu mengantar Indonesia ke posisi terkemuka, atau paling tidak sejajar dengan negara-nImageegara lain pada hakikatnya menuntut komitmen akan dua hal, yaitu: 1) Penemukenalan dan pengembangan bakat-bakat unggul dalam berbagai bidang, dan 2) penumpukan dan pengembangan kreativitas -yang pada dasarnya dimiliki setiap orang- tapi perlu ditemukenali dan dirangsang sejak usia dini.
Seorang anak dikatakan anak luar biasa karena ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan terletak pada adanya ciri-ciri yang khas yang menunjukkan pada keunggulan dirinya. Namun, ‘keunggulan’ tersebut selain menjadi sebuah kekuatan dalam dirinya sekaligus menjadi ‘kelemahan’. Yang dimaksud sebagai kelemahan di sini adalah diabaikannya ia sebagai individu yang memiliki hak sama dalam mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya.

B.    Fokus Masalah
Anak-anak berbakat memiliki potensi yang luar biasa, baik untuk menjadi pribadi yang positif ataupun yang negatif. Hal ini ditentukan oleh penanganan yang mereka pada masa tumbuh kembang, baik di dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia tinggal.
Mereka adalah bibit yang siap tumbuh, sebagaimana tanaman yang merupakan bibit unggul tidak serta merta menjadi tumbuhan yang luar biasa, karena akan bergantung pada keadaan tanah di mana ia ditanam, bagaimana unsur haranya, mineralnya, bagaimana pemupukan yang ia terima, penyinaran mataharinya dan lain sebagainya.
Orangtua dan pendidik seyogyanya menyadari pentingnya pengenalan tanda-tanda anak berbakat, dengan demikian bisa menentukan pendekatan apa yang tepat dan bagaimana cara menerapkan pada pola didik anak yang bersangkutan.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A.    Pengertian
Definisi menurut USOE (United States Office of Education), anak berbakat adalah anak yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti intelektual, kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik dan mereka yang membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang disediakan di sekolah sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya (Hawadi, 2002).
Keberbakatan (giftedness)dan keunggulan dalam kinerja mempersyaratkan dimilikinya tiga cluster ciri-ciri yang saling terkait, yaitu: kemampuan umum atau kecerdasan di atas rata-rata, kreativitas, dan pengikatan diri terhadap tugas sebagai motivasi internal cukup tinggi. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, ketiga karakteristik tersebut perlu ditumbuhkembangkan dalam tiga lingkungan pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Keberbakatan merupakan interaksi antara kemampuan umum dan atau spesifik, tingkat tanggung jawab terhadap tugas yang tinggi, dan tingkat kreativitas yang tinggi (Renzulli dalam hawadi, 2002)
Sedangkan menurut Depdiknas (2003), anak berbakat adalah mereka yang oleh psikolog dan atau guru diidentifikasi sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi memuaskan dan memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas, kreativitas yang memadai, dan keterikatan pada tugas yang tergolong baik.

B.    Faktor-faktor Penyebab
1.    Faktor Genetik dan Biologis Lainnya
Pendapat bahwa intelegensi dan kemampuan yang berkualitas adalah diturunkan kurang dapat diterima di masayarakat yang memandang bahwa semua orang itu sama. Penelitian dalam genetika perilaku menyatakan bahwa setiap jenis dalam perkembangan perilaku dipengaruhi secara signifikan melalui gen/keturunan. Namun demikian faktor biologis juga tidak dapat diingkari, faktor biologis yang belum bersifat genetik yang berpengaruh pada intelegensi adalah faktor gizi dan neurologik. Kekurangan nutrisi dan gangguan neurologik pada masa kecil dapat menyebabkan keterbelakangan mental. Studi dari Terman terhadap orang-orang yang memiliki IQ tinggi menunjukkan keunggulan fisik seperti: tinggi, berat, daya tarik dan kesehatan, dibandingkan mereka yang intelegensinya lebih rendah.
Penekanannya adalah, individu tidak mewarisi IQ atau bakat. Yang diwariskan adalah sekumpulan gen yang bersama dengan oengalaman-pengalaman akan menentukan kapasitas dari intelegensi dan kemampuan-kemampuan lainnya (Zigler & Ferber, dalam Hallahan & Kauffman, 1994).

2.    Faktor Lingkungan
Stimulasi, kesempatan, harapan, tuntutan, dan imbalan akan berpengaruh pada proses belajar seorang anak. Penelitian tentang individu-individu berbakat yang sukses menunjukkan masa kecil mereka di dalam keluarga memiliki keadaan sebagai berikut:
    Adanya minat pribadi dari orang tua terhadap  bakat anak dan memberikan dorongan
    Orangtua sebagai panutan
    Ada dorongan dari orangtua untuk menjelajah
    Pengajaran bersifat informal dan terjadi dalam berbagai situasi, proses belajar awal lebih bersifat eksplorasi dan bermain
    Keluarga berinteraksi dengan tutor/mentor
    Ada perilaku-perilaku dan nilai yang diharapkan berkaitan dengan bakat anak dalam keluarga
    Orangtua menjadi pengamat latihan-latihan, memberi pengarahan bila diperlukan, memberikan pengukuran pada perilaku anak yang dilakuakn dengan terpuji dan memenuhi standard yang ditetapkan
    Orangtua mencarikan instruktur dan guru khusus bagi anak
    Orantua mendorong keikutsertaan anak dalam berbagai acara positif di mana kemampuan anak dipertunjukkan pada khalayak ramai
Anak-anak yang disadari memiliki potensi perlu dikembangkan, perlu memiliki keluarga yang penuh rangsangan, pengarahan, dorongan, dan imbalan-imbalan untuk kemampuan mereka.
Penelitian lain menunjukkan bahwa kelompok budaya atau etnik-etnik tertentu menghasilkan lebih banyak anak-anak berbakat walaupun tingkat sosial ekonominya berbeda. Hal ini dikaitkan dengan mobilitas sosial dan nilai yang tinggi pada prestasi di dalam bidang-bidang tertentu yang ada dalam kelompok budaya dan etnik tertentu yang menjadi kontribusi dalam keberbakatan.
Jadi lingkungan memeiliki pengaruh yang banyak terkait bagaimana genetik anak diekspresikan dalam kesehariannya. Faktor keturunan lebih menentukan rentang di mana seseorang akan berfungsi, dan faktor lingkungan menentukan apakah individu akan berfungsi pada pencapaian lebih rendah atau lebih tinggi dari rentang tersebut.

C.    Karakteristik
Biasanya anak yang kreatif  selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas, dan menyukai kegemaran dan aktivitas yang kreatif. Mereka biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri, lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) daripada anak-anak pada umumnya. Artinya dalam melakukan sesuatu yang bagi mereka amat berarti, penting, dan disukai, tidak terlalu menghiraukan kritik atau ejekan orang lain. Merekapun tidak merasa takut untuk membuat kesalahan dan mengemukakan pendapat mereka walaupun mungkin tidak disetujui orang lain. Orang yang inovatif cenderung menonjol, berbeda, membuat kejutan, atau menyimpang dari tradisi/kebiasaan setempat. Rasa percaya diri, keuletan, dan ketekunan membuat mereka tidak cepat putus asa dalam mencapai tujuan mereka. Thomas Alpha Edioson mengungkapkan bahwa “Genius is 1% inspiration and 99% perspiration”.
Treffinger mengatakan bahwa pribadi yang kreatif biasanya lebih terorganisasi dalam tindakan. Rencana inovatif serta produk orisinil mereka telah dipikirkan matang-matang lebih dahulu, dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin timbul dan implikasinya.
Siswa berbakat kreatif biasanya mempunyai rasa humor yang cukup tinggi, dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan memiliki kemampuan untuk bermain ide, konsep, atau kemungkinan-kemungkinan yang dikhayalkan.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 1985 oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menemukan 20 (dua puluh) ciri-ciri dengan masing-masing lima ciri-ciri dengan masing-masing 5 (lima) ciri keberbakatan yang dianggap penting oleh guru di Indonesia.
20 ciri keberbakatan dilihat dari 4 aspek, yaitu : ciri kemampuan belajar, ciri kreativitas, ciri pelibatan diri, ciri kepribadian. Ciri-ciri keberbakatan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Daya tangkap cepat
2.    Memiliki kecerdasan tinggi
3.    Mudah memecahkan masalah
4.    Kritis
5.    Pemikiran kritis dan logis
6.    Kreativitas
7.    Memiliki keinginan tahu yang besar
8.    Berani mengutarakan dan mempertahankan pendapat
9.    Aktif, sering bertanya dengan tepat
10.    Memiliki inisiatif
11.    Memiliki tanggung jawab terhadap tugas
12.    Tekun
13.    Teratur dalam belajar
14.    Teliti
15.    Memiliki ambisi untuk berprestasi
16.    Mempunyai rasa percaya diri
17.    Memilikiki jiwa kepemimpinanan
18.    Kepribadian mantap
19.    Taat pada peraturan
20.    Sopan dalam bersikap

D.    Upaya Penanganan (Intervensi)
1.    Keluarga
Berbagai penelitian pakar psikologis menemukan bahwa sikapo dan nilai orangtua berkaitan erat dengan kreativitas anak. Beberapa faktor dalam peran orangtua yang menentukan adalah sebagai berikut:

a)    Kebebasan
Orangtua sebaiknya memberikan kebebasan pada anak, tidak otoriter, tidak selalu mau mengawasi anak, dan tidak terlalu membatasi kegiatan anak. Mereka juga tidak terlalu cemas mengenai anak mereka
b)    Respek
Orangtua hendaknya menghormati anak-anak mereka sebagai individu, percaya akan kemampuan mereka, dan menghargai keunikan mereka. Dengan sikap seperti ini, anak-anak akan secara alamiah mengembangkan kepercayaan diri untuk berani melakukan sesuatu yang orisinal
c)    Kedekatan emosional yang sedang
Kreativitas anak akan terhambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan, atau rasa terpisah. Tetapi keterikatan emosional yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas anak. Anak perlu merasa bahwa ia diterima dan disayangi tetapi seyogyanya tidak terlalu tergantung kepada orangtua
d)    Prestasi, bukan angka
Orangtua harus menghargai prestasi anak, mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya dan menghasilkan karya-karya yang baik. Tetapi tidak terlalu menekankan mereka untuk mencapai angka atau nilai tinggi, atau peringkat tertinggi

e)    Orangtua aktif dan mandiri
Orangtua adalah model bagi anak, orangtua yang kreatif merasa aman dan yakin tentang diri sendiri, tidak memperdulikan status sosial, dan tidak terlalu terpengaruh oleh tuntutan sosial.
f)    Menghargai kreatifitas
Anak membutuhkan apresiasi atas segala pencapaian mereka, hal itu akan membuat mereka merasa apa yang telah mereka kerjakan tidak sia-sia dan sangat berharga. Sehingga memacu mereka untuk terus berkarya.

2.    Sekolah
Anak berbakat membutuhkan guru yang tidak sekedar baik, tapi memahami bagaimana cara terbaik dan tepat untuk menangani anak berbakat. Mandell dan Fiscus (dikutip Sisk, 1987) melaporkan hasil penelitian bahwa anak berbakat dapat bereaksi dengan kemarahan, kebencian, atau kesebalan jika guru mereka. Ward menyebutkan bahwa anak berbakat memerlukan pendidikan yang berdifferensiasi, yaitu pendidikan yang sesuai dengan minat dan kemampuan intelektualnya. Melalui pengembangan kurikulum yang berdifferensiasi, maka keberbakatan akan muncul dengan sendirinya melalui prestasi dan karya-karya mereka.
Maker (1982) membagi karakteristik guru anak berbakat menjadi tiga kelompok: filosofis, profesional, dan pribadi.

•    Karakteristik Filosofis
Karakteristik filosofis perlu karena bagaimana cara guru memandang pendidikan akan berdampak pada bagaimana pendekatan yang mereka pilih untuk mengajar.
Storm (1983) mengemukakan konflik filosofis dapat dialami guru dengan anak berbakat. Guru cenderung berpikir bahwa anak berbakat dapat berhasil dari dirinya sendiri, sehingga tidak perlu mempertimbangkan ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan mereka. Akibatnya, anak berbakat meraih prestasi di bawah kemampuan mereka. Studi yang dilakukan di Iowa, sebagaimana dilakukan Strom menunjukkan bahwa 45% dari siswa dengan IQ di atas 130 mencapai nilai rata-rata di sekolah di bawah C.
Dalam konflik filosofis, guru dapat mengalami kesulitan dengan upaya pengembangan kreativitas di dalam kelas. Siswa berbakat kreatif melaporkan bahwa mereka sering dimarahi, dicemoohkan, dan tidak memperoleh tantangan dalam belajar.
•    Karakteristik Profesional
Karakteristik profeional bisa dikembangkan melalui pelatihan dalam jabatan (in-job training), seperti kemampuan untuk mempergunakan keterampilan dinamika kelompok, teknik, dan strategi yang maju dalam mata ajaran tertentu, memberikan pelatihan inquiry dan memahami komputer.
Plowman (dalam Sisk, 1987) membedakan sepuluh kelompok karakteristik profesional guru bagi anak berbakat, yaitu:
a)    Assessment anak berbakat
b)    Mengetahui tentang sifat dan kebutuhan anak berbakat
c)    Menggunakan data assessment dalam merencanakan program individual anak berbakat
d)    Mengetahui tentang model kurikulum yang penting untuk pendidikan anak berbakat
e)    Mampu dalam menggunakan dinamika kelompok
f)    Mengetahui tentang berbagai program untuk anak berbakat, minat, dan komitmen terhadap pembelajaran anak berbakat
g)    Mengetahui aturan dan hukum sehubungan dengan pendidikan anak berbakat
h)    Mengetahui dan mampu untuk membimbing anak berbakat dan orang tua mereka
i)    Mengetahui tentang kecenderungan dan isu dewasa ini dalam pendidikan anak berbakat

•    Karakteristik Pribadi
Karakteristik pribadi guru bagi anak berbakat meliputi motivasi, kepercayaan diri, rasa humor, kesabaran, minat luas, dan kelenturan (fleksibilitas). Lindsey (dalam Sisk, 1987) menyimpulkan karakteristik pribadi dari guru yang berhasil bekerja dengan anak berbakat mencakup: memahami dan menerima diri sendiri, mempunyai kekuatan ego, kepekaan terhadap orang lain, minat intelektual di atas rata-rata, serta bertanggung jawab terhadap perilaku diri sendiri dan akibatnya. Karaktereistik pribadi lainnya adalah empati, tenggang rasa, orisinalitas, antusiasme, dan aktualisasi diri.

3.    Masyarakat
Suatu masyarakat yang berdasarkan pada hukum yang adil, yang memungkinkan kondisi ekonomi dan psikologis baik bagi warga negaranya, merupakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan kreatifitas. Study dari Gray (dikutip Arieti, 1976) menunjukkan bahwa masyarakat yang sehat dan sejahtera akan memupuk kreatifitas. Arieti mengemukakan sembilan faktor sosiokultural yang kreatif:
a)    Tersedianya sarana kebudayaan
b)    Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
c)    Penekanan pada “becoming” (menjadi) bukan sekedar hanya pada “being” (sekedar ada)
d)    Memberikan kesempatan bebas terhadap media kebudayaan bagi semua warga negara, tanpa diskriminasi
e)    Timbulnya kebebasan setelah pengalaman tekanan dan tindakan keras
f)    Keterbukaan terhadap kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontras
g)    Toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen
h)    Adanya interaksi antara individu-individu yang berpengaruh
i)    Adanya insentif, penghargaan, atau hadiah
Selain itu sangat dibutuhkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapt bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya dengan memandu dan memupuk minat anak.  Perlu diadakan pertemuan berkala antara guru-guru yang membimbing anak berbakat dengan orangtua anak berbakat untuk bersama-sama membicarakan dan mambahas masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan keberbakatan anak.
Program-program kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat anak, misalnya: belajar musik, menari, drama, ilmu, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Seorang anak dikatakan anak luar biasa karena ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Perbedaan terletak pada adanya ciri-ciri yang khas yang menunjukkan pada keunggulan dirinya. Namun, ‘keunggulan’ tersebut selain menjadi sebuah kekuatan dalam dirinya sekaligus menjadi ‘kelemahan’. Yang dimaksud sebagai kelemahan di sini adalah diabaikannya ia sebagai individu yang memiliki hak sama dalam mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dirinya.
Keberbakatan (giftedness)dan keunggulan dalam kinerja mempersyaratkan dimilikinya tiga cluster ciri-ciri yang saling terkait, yaitu: kemampuan umum atau kecerdasan di atas rata-rata, kreativitas, dan pengikatan diri terhadap tugas sebagai motivasi internal cukup tinggi. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, ketiga karakteristik tersebut perlu ditumbuhkembangkan dalam tiga lingkungan pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat.

B.    Saran
Orangtua sebaiknya merasa perlu menambah wawasan tentang tumbuh kembang anak, hal ini mencakup tahap-tahap perkambangan anak,  pola asuh dan pola didik anak. Dengan mengetahui informasi tentang tahap perkembangan anak, maka orangtua bisa secara dini mengenali hal-hak yang tidak biasa yang ada pada diri anak.
Kemudian, dengan memahami konsep-konsep pola asuh dan pola didik yang ilmiah, maka orangtua akan mampu menimimalisir kesalahan dalam menerapkan nilai, sikap, dan perilaku dalam menghadapi anak, terutama ketika anak-anak menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dengan anak-anak seusianya.
Di samping orangtua, seorang pendidik atau guru dianjurkan juga menambah pengetahuan tentang perkembangan anak, disamping menguasai substansi mata pelajaran yang diajarkannya di dalam kelas, tentunya hal ini akan memudahkan bagi guru dalam mengambil pendekatan sesuai dengan kepribadian si anak.
Pemerintah sebagai payung utama pertumbuhan dan perkembangan warga negaranya, semestinya menaruh perhatian besar terhadap penelitian-penelitian, pengembangan-pengembangan terkait dengan pendidikan anak berbakat. Karena hal ini terkait dengan kesuksesan generasi muda sebuah negara dalam menyongsong masa depannya.

DAFTAR PUSTAKA
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta
Mangunsong, Frieda. 1998. Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Jakarta: LPSP3 UI

Karakter Anakmu..

Di tikungan jalan itu, tak jauh dari komplek perumahan di mana aku tinggal.. seorang anak di bawah cahaya remang lampu penerang jalan yang berwarna kuning memberikan tanda dengan tangan kirinya, dan aku menangkapnya sebagai ungkapan “om.. boleh numpang ga?”.. mungkin sekitar jam 8 malam waktu makassar. Ku tekan perlahan tuas rem motor di kaki kananku sembari memberikan senyum pada anak berusia sekitar 10 tahun itu dan berkata “ ayo naik…”. Tidak lama setelah itu motorku segera melaju dengan anak itu di belakangku. Aku bertanya..” dari mana..?” anak itu menjawab dengan dialek kental makassar “ dari ka’ kerja om..cari uang kodong”..aku membalas “ooo, kerja apa..di mana?”. “ di panaikang ka’ Om.. cabut-cabut rumput”. Terdengar dari intonasi suaranya, anak ini sedang berusaha meraih simpatiku.. akupun memberikan apa yang dia inginkan.. sebuah “simpati” dengan caraku sendiri.. bukan dengan cara yang dia inginkan.

 
Sambari tetap melaju pelan di atas motor, aku mencoba menyelami anak ini. Pakaian yang dia kenakan meskipun tidak nampak mewah tapi cukup rapi, tidak lusuh, sebuah celana pendek di atas lutut dan kaos oblong berwarna coklat, tidak ada tanda-tanda bahwa dia baru saja melakukan pekerjaan yang sangat membuat dia payah, wajahnya bersih tidak kusam tanpa keringat, dan tidak ada bau badan menyengat dari tubuhnya. Hati kecilku berkata “anak ini sedang berusaha membohongiku…”. Aku sama sekali tidak marah, hanya justru merasa miris.. pikiranku mulai meraba-raba keberadaan orangtuanya, apa yang mereka ajarkan pada anak ini, sejauh apa mereka memberi perhatian pada anak  mereka, tahukah mereka bahwa anaknya kini sedang membohongi seseorang demi mendapatkan mungkin selembar uang lima ribuan. Tapi sekali lagi, ini masih rangkuman dari hasil analisa bakat intelegenku yang terpendam, belum terbukti, hehehe..

 
Hingga ketika motorku mendekati sebuah pintu gerbang perumahan BTN, anak itu berkata..”di sini ma qi om” aku pun menghentikan motorku.. dan memberi kesempatan dia turun. “di mana rumahmu?” aku berusaha memancing dia. “di dalam ka”. Bahasa tubuh anak ini sudah mulai menunjukkan kekakuan, mungkin karena sekarang dia berbicara sambil berhadapan muka denganku, tidak seperti ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku sewaktu dia masih kubonseng berada di belakangku. “ya sudah, om jalan ya…” aku sengaja tidak langsung memutar gas motorku karena menunggu respon anak ini mengungkapkan (lebih tepatnya membuktikan) sangkaanku. Tapi karena tidak mungkin aku berlama-lama dan harus segera sampai di rumah, aku mulai memutar gas motorku, tapi tiba-tiba dia bersuara..
“om.. kasih ka’ uang ta’ kodong” nah, ini bukti yang kutunggu-tunggu. ”kenapa …?” Aku pura-pura tidak mendengar jelas. Sehingga dia mengulangi kembali perkataannya “kasih ka’ dulu uang ta’ kodong, belum pa’ makan”. “kamu belum makan?” aku bertanya. “belum, kasih ka’ uang ta’ mau beli makan”. “Ayo kubelikan makan, makan ko nanti sampe kenyang, terus saya antar sampe ke rumahmu.. di sebelah mana rumahmu di dalam situ?” aku berharap dia mau mengikuti ajakanku, dengan demikian analisa intelegenku yang tadi menjadi salah.

 
Tapi justru anak ini melangkah menjauh sambil berkata” jangan mi om..”. “kenapa… ayo makan sama om, terus kuantar ko pulang”. Dia semakin melangkah menjauh ke arah di mana kami berangkat tadi sambil berkata “jangan mi om, bohong-bohong ja’ tadi..minta maaf ka”. Saya tersenyum tanpa makna mendengar pengakuannya. Sambil menatap teduh ke arah wajah anak ini, yang membuat dia semakin merasa bersalah. Dia ulangi lagi perkataannya “minta maaf ka’ om, bukan di sini rumahku, bohong ja’ tadi” dan langsung setengah berlari menjauh. Akupun segera meninggalkan tempat itu dan menuju pulang.

 
Mungkin anak itu tumbuh dari keluarga yang tidak mampu, yang tidak memungkinkan dia menerima uang jajan dari orangtuanya.. tapi apakah itu sebuah permakluman yang kemudian kita tidak menganggap perbuatan itu salah. Kalau demikian halnya, bagaimana nasib bangsa kita ini.. bukankah lebih dari separuh penduduk kita berdiri di atas garis kemiskinan, dan ironisnya merekalah yang memiliki laju pertumbuhan tinggi karena rata-rata justru mereka lebih memiliki rasa tawakkal yang tinggi daripada orang-orang yang mampu secara finansial, mereka tidak takut untuk memiliki anak. Dan apakah jika itu adalah sebuah permakluman, apakah jika suatu hari Allah menguji kita dengan kesempitan, maka kita akan mengijinkan atau bahkan mengajarkan anak-anak kita dengan hal serupa itu.

 
Miskin adalah sebuah ujian, bukan merupakan sebuah alasan untuk bisa memilih jalan-jalan pintas. Anak adalah harta berharga yang di amanahkan oleh Allah (Tuhan) kepada kita untuk kita lestarikan pribadinya, kita pupuk karakternya, dan kita kembangkan potensinya. Tapi tidak semua orangtua  memahami hal ini, baik dari kalangan menengah ke bawah ataupun golongan atas. Kisah pertemuan yang saya alami di atas hanyalah salah satu contoh dari hasil salah asuhan yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.. tapi banyak bisa kita temukan hasil produk salah asuhan yang keluar dari golongan atas. Bisa saja hasilnya adalah, anak-anak yang brutal, anarkis, depresi, bunuh diri, possesive, serta penyimpangan-penyimpangan kepribadian lainnya. Semua penyimpangan kepribadian ini tidak muncul begitu saja dalam kisaran seminggu atau dua minggu sebelum tragedi klimaks dari sebuah penyimpangan kepribadian. Semua berawal dari tatanan asuh yang diterima anak dari masa 5 tahun pertama usia kehidupannya.

 
5 tahun pertama usia kehidupan ini disebut juga “golden age” (usia emas). Tidak berlebihan saya rasa, sebutan usia emas ini karena di sanalah masa-masa dimana semua pondasi karakter, sikap, kepribadian dibentuk oleh lingkungan di mana dia tumbuh. Sentuhan, ucapan, contoh perbuatan yang ditangkap oleh panca inderan seorang anak pada masa itu akan tertanam kuat dalam alam bawah sadar dan dimaknai sebagai sebuah kebenaran mutlak. Bahkan alam bawah sadar ini sangat terbuka lebar pada usia 1-3 tahun.  Jadi berhati-hatilah wahai para orangtua, dalam mengasuh anak-anak Anda, karena apapun mereka jadinya nanti ketika remaja maka itu adalah hasil dari sentuhan kita pada masa dini mereka.

Jangan Biarkan Obsesimu Menguasai Anakmu…

lomba mewarnai

2 Minggu lalu di kantor saya menyelenggarakan sebuah pameran, saya termasuk dari kru EO nya. Salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan pameran ini adalah perlombaan mewarnai untuk anak usia 2-5 th. Nah, karena anak saya yang pertama, aisyah belum genap berusia 6 tahun, maka sy daftarkanlah dia ikut jadi peserta lomba di dampingi uminya.

Sebagai anggota panitia saya tidak mungkin dong mendampingi anak istri saya terus, maka saya tetap live in show pada tanggung jawab saya di pameran. Sepulang dari acara pameran istri saya memberikan sebuah cerita menarik seputar berlangsungnya acara lomba mewarnai.

“ Kak, tadi itu dinda melihat dua anak yang kasihan..” saya tanya. “kenapa kasihan..?”.” mereka menempatkan warna pada lukisan sangat apik, dinda yakin pemenang I dan II adalah mereka. Karena pilihan warna yang mereka letakkan pada masing-masing objek gambar sangat tepat dan penuh imajinasi.”

“ Trus apa masalahnya?”

“iya, mereka dikomandoi sama kedua ibu mereka. Hei, kasih warna hijau yang itu.. yg ini merah, jangan warna yang itu, kasih garis-garis, jangan terlalu tebal, kasih sedikit saja…..bla bla bla. Dinda tidak melihat ada ekspresi ceria dan puas dari kedua wajah anak itu.. yang ada adalah ekspresi wajah tegang. Kalau ada angota panitia bergerak mendekat, salah satu ibu berkata” awas awas ada panitia”.. jadi mereka berdiam dulu sejenak, begitu panitia menjauh.. mulai lagi komando nya..”

Dari cerita ini, saya ingin berbagi.. betapa kasihannya kedua anak tersebut. Mereka jauh-jauh dari rumah, dengan segala persiapan mewarnainya ternyata hanya untuk memenuhi kepentingan ibunya, yakni OBSESI. Padahal pola piker orang tua yang bijak dan tau didik, harusnya acara lomba begini adalah peluang yang besar untuk mengembangkan rasa percaya diri pada anak, bukan hadiah dan predikat juara yang dijadikan sasaran, tapi kemandirian, pengembangan bakat dan kreatifitas, daya imajinasi anak. Namun amat disayangkan, Orang tua semacam ini, telah menukar peluang untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, demi obsesi mereka.

Jika pola asuh seperti ini yang terus diterapkan, hasilnya, yakin saja.. anak-anak mereka akan mengalami kesulitan untuk berani maju seorang diri tanpa didampingi sang ibu, setiap keindahan dan hasil kerja yang bagus dari tangan anak-anak mereka bukanlah hasil imajinasi otak mereka yang sebenarnya penuh potensi dan menunggu untuk distimulus.. tapi hasil dari imajinasi sang ibu. Dan setiap keberhasilan yang mereka capai, merupakan kepuasan sang Ibu bukan kepuasan batin mereka.

Wahai para orangtua dan calon orang tua, didiklah anak-anak kita dengan kasih sayang yang benar.  Dan untuk itu, maka kita tidak boleh sombong untuk selalu belajar bagaimana menjadi orang tua yang benar..

PROPOSAL PENELITIAN: “Hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan”

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Kepribadian adalah suatu wujud akumulasi dari sifat, watak, dan perilaku seorang manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis, di mana tingkah lakunya berpijak pada motivasi yang bersifat mendorong yang menyebabkan untuk melahirkan suatu perbuatan atau respon dalam usaha mencapai kebahagiaan. Oleh karena itu sering terjadi persaingan dan konflik fisik dan psikis di antara sesama manusia disebabkan oleh adanya perbedaan dalam cara-cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Di samping itu ada pula konflik-konflik intern yang terdapat di dalam diri pribadi, yang disebabkan adanya kecenderungan-kecenderungan ide yang saling berbenturan serta saling mendesak, yaitu adanya ide-ide yang tinggi yang tidak dapat dicapai dengan kemampuan pribadi tersebut, sehinggan menimbulkan kekecewaan dan tekanan batin. Dengan adanya konflik bermacam-macam tersebut, membuktikan bahwa di dalam diri manusia itu selalu ada usaha untuk membentuk diri, dan membetulkan diri sendiri serta merubah diri untuk menjadi individu yang lebih baik.

 Para peneliti di bidang psikologi telah melakukan banyak penelitian tentang  kepribadian yang dikaitkan dengan banyak hal. Sebuah penelitian di Surakarta menunjukkan bahwa antara  kepribadian dan kreativitas siswa secara bersama-sama berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi. Di kesempatan yang lain, sebuah penelitian di hotel yang berada di kota Surabaya menunjukkan bahwa  kepribadian dan gaya komunikasi manajer Public Relation mempengaruhi hubungan baik dengan media. Meski demikian, hubungan baik dengan media tidak terlalu mempengaruhi publikasi. Masih dalam ranah organisasi yang profit oriented, sebuah penelitian yang dilakukan pada perusahaan perak di kota Banyuwangi menunjukkan bahwa karyawan perusahaan kerajinan perak putra silver cenderung mempunyai  kepribadian locus of control lebih besar dibandingkan eksternal, kemudian prestasi kerja karyawan perusahaan kerajinan perak putra silver ialah tinggi, dan kepribadian locus of control mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan pada perusahaan kerajinan perak putra silver Banyuwangi.

Kepribadian seseorang mampu menjadi tolok ukur bagi variabel lain pada subjek yang sama. Kepribadian menjadi bahan referensi ketika kita ingin mengetahui suatu hal masalah dari seseorang. Termasuk dalam hal ini adalah kecenderungan dalam menerapkan gaya ketika mendapatkan peluang menjadi salah satu pemimpin.

Kepemimpinan yang efektif merupakan suatu unsure penting dalam kehidupan organisasional, baik di bidang kenegaraan, keniagaan, politik, bahkan di bidang organisasi-organisasi sosial yang sifatnya nirlaba. Penggabungan antara pemahaman teoritis dan empiris telah semakin meyakinkan berbagai kalangan, betapa pentingnya peranan kepemimpinan dalam usaha organisasi yang bersangkutan dalam mencapai tujuan dan berbagai sasarannya.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat tergantung pada mutu kepemimpinan yang terdapat pada organisasi tersebut. Hal senada juga dapat dikatakan pada organisasi pemerintahan yang tanggung jawab utamanya adalah menyelenggarakan tugas-tugas pengaturan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat. Mutu peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar kerja para anggota aparatur pemerintah sangat ditentukan oleh persepsi, wawasan, dan profesionalisme para perumus peraturan perundang-undangan tersebut yang tentunya kemudian diikuti oleh berbagai kebijaksanaan teknis dan kebijaksanaan operasional sesuai dengan bidang tanggung jawab fungsional masing-masing (siagian, 2003).

Demikian juga dengan organisasi di bidang pendidikan, baik yang dikelola oleh pemerintah ataupun yang dimiliki, dikelola dan diselenggarakan oleh masyarakat. Mutu seluruh kegiatan pendidikan, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler –yang pada akhirnya mencerminkan mutu para lulusan lembaga pendidikan tersebut- pada tingkat yang sangat dominan ditentukan oleh mutu kelompok akademik dan administratif dalam organisasi pendidikan yang bersangkutan (siagian, 2003).

Masing-masing organisasi memiliki ciri khas tersendiri, dengan target visi dan misi sendiri sehingga membutuhkan  atau gaya kepemimpinan yang tidak sama antara satu organisasi dengan organisasi yang lain. Demikian juga dalam sub organisasi, antara satu divisi dan divisi yang lain membutuhkan  atau gaya kepemimpinan yang berbeda sesuai dengan tupoksi yang diemban masing-masing divisi. Tentunya merupakan pertaruhan besar bagi sebuah organisasi dalam meenentukan sosok seorang pemimpin, yang merupakan nahkoda bagi berjalannya laju layar organisasi.

Permasalahan tersebut di atas merupakan gambaran betapa kepribadian merupakan unsur penting dalam mengambil keputusan yang terkait dengan individu-individu manusia. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa ada kaitan erat antara  kepribadian dengan kecenderungan seseorang dalam memilih terapan gaya kepemimpinan bagi organisasi yang dia pimpin. Olehnya itu dalam penelitian ini, penulis tertarik untuk meneliti “Hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan” di lingkungan Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur II (PKP2A II) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar.

  1. B.      Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah ada hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan para pejabat struktural yang ada di lingkungan PKP2A II dan STIA LAN Makassar
  2. Bagaimana bentuk hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan yang ada
  1. C.      Batasan Masalah

Penelitian ini di batasi pada penelusuran kepribadian berdasarkan Model Lima Faktor, dan pembagian tipe kepemimpinan yang ada dan dilaksanakan hanya pada kantor PKP2A II dan STIA LAN Makassar.

  1. D.      Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap ada atau tidaknya hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan di lingkungan PKP2A II dan STIA LAN Makassar, serta mengetahui bagaimana bentuk hubungan yang ada.

  1. E.       Manfaat Penelitian
  2. Bagi Penulis

Membantu memberikan informasi tentang  kepribadian dan tipe kepemimpinan kepada rekan-rekan baik seprofesi ataupun sejawat, khususnya yang bergerak aktif dalam dinamika struktur organisasi. Serta menginformasikan bagaimana bentuk hubungan antaran kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan yang ada pada masing-masing individu.

  1. Bagi Lembaga

Memberi bahan masukan bagi organisasi Lembaga Administrasi Negara dalam memilih Sumber Daya Aparatur untuk dipertimbangkan atau dipromosikan ke dalam jabatan struktural tertentu dengan memprediksi kecenderungan tipe kepemimpinan yang akan diterapkan berdasarkan kepribadian yang telah diinformasikan terlebih dahulu.

  1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Menambah khazanah ilmu pengetahuan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan antara  kepribadian dengan kecendrungan tipe kepemimpinan.

  1. F.       Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepemimpinan
  2. Hipotesis nihil (H0) : Tidak ada hubungan antara kepribadian dengan kecenderungan tipe kepimpinan
  1. G.     Definisi Operasional
  2. Hubungan adalah keterkaitan yang muncul atau bisa dirasakan antara dua unsur atau lebih dalam bentuk apapun.
  3. Tipe adalah jenis, model, gaya tertentu.
  4. Kepribadian adalah karakteristik individu yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku.
  5. Kecenderungan adalah potensi dasar yang dimiliki seseorang dalam pemilihan sebuah sikap atau perilaku.
  6. Kepemimpinan adalah cara atau seni dalam mempengaruhi dan mengarahkan orang lain atau bawahan dengan melibatkan rasa kepercayaan, kepatuhan, kehormatan, kerja sama.
  1. H.     Identifikasi Variabel Penelitian

Berdasarkan hipotesis penelitian ini, maka variable penelitian terbagi atas :

  1. Variabel bebas                      :  Kepribadian
  2. Variabel terikat                     :  Tipe Kepemimpinan
  1. I.        Kerangka Konsep

Sebagai Lembaga yang mengemban amanah dalam perbaikan kualitas penyelenggaraan pelayanan publik, Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang dalam pembinaan di kawasan timur Indonesia diwakili oleh Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Apratur II (PKP2A II) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) LAN Makassar membutuhkan para pengambil kebijakan yang ideal. Sosok pimpinan yang dibutuhkan bukan hanya dilandasi oleh disiplin ilmu yang memadai, namun juga kesesuaian penerapan tipe kepemimpinan yang dibutuhkan pada iklim organisasi yang ada pada masing-masing PKP2A II dan STIA LAN Makassar.

Beberapa pilihan tipe kepemimpinan tidak ada yang memiliki nilai absolut sehingga menjadi yang paling benar. Namun pilihan tipe kepemimpinan harus sesuai dengan kebutuhan organisasi dilihat dari dinamika organisasi yang ada, mulai dari  pekerjaan, variasi Sumber Daya Manusia, tingkat beban psikis yang bakal dirasakan, dan banyak hal lainnya.

Pimpinan pusat membutuhkan informasi kepribadian setiap pegawai, sehingga ketika ada kebutuhan untuk mengusulkan nama dalam sebuah jabatan tertentu, dengan mengetahui  kepribadian masing-masing pegawai, pimpinan pusat bisa memprediksikan kecenderungan tipe kepemimpinan yang bakal diterapkan oleh masing-masing calon pejabat. Tentunya, dengan diperolehnya informasi tentang kecenderungan gaya kepemimpinan dari masing-masing calon pemangku jabatan, seorang pimpinan bisa memilih dari sekian calon yang memiliki kompetensi dan kredibilitas sama, salah satu yang memiliki kecenderungan tipe kepemimpinan sesuai dengan dinamika organisasi pada saat itu.

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian :

Sumber Daya Manusia

Dimensi Kepribadian

MODEL LIMA BESAR (The Big Five)

  1. Neurotism
  2. Extraversion
  3. Openness
  4. Agreebleness
  5. Conscientiousness

 

Tipe Kepemimpinan

Model Managerial Grid:

  1. Improverished Leadership
  2. Team Leaderhip
  3. Country Club Leadership
  4. Task Leadership
  5. Middle of The Road

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.       Kepribadian

Kepribadian adalah karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, dan perilaku (Pervin, 2010). Kita bisa menemukan banyak teori kepribadian yang ditinggalkan oleh para ilmuwan psikologi dunia. Baik yang secara khusus bicara tentang struktur kepribadian, atau yang membahas panjang lebar tentang tahap perkembangan manusia. Seiring berkembang waktu teori-teori itupun mengalami perkembangan, sampai pada masa bermunculan ilmuwan psikologi yang berbicara tentang pembagian tipe kepribadian manusia dengan penetapan dimensi-dimensi sebagai tolok ukur.

Selama bertahun-tahun para periset utama, termasuk Eysenck, Cattell dan yang lain berdebat tentang jumlah dan karakteristik alamiah dimensi dasar sifat kepribadian. Sejak tahun 1980-an perbaian kualitas dan metode, khususnya analisis faktor telah menghasilkan awal konsensus (Pervin, 2010). Banyak periset yang sekarang setuju bahwa perbedaan individual dapat diorganisir dalam lima dimensi yang lebih luas dan bipolar (John & Srivastana dalam Pervin, 2010).

Pada 1981, Lewis Goldberg mengevaluasi beberapa riset dan karena terkesan konsisten hasilnya, ia menyarankan bahwa ada kemungkinan setiap model penstrukturan perbedaan individu akan mencakup segala sesuatu seperti “lima dimensi” ini (hlm. 159). Dengan demikian, faktor “lima besar” menjadi faktor eksistensi. Lima dimensi yang dianggap konsisten oleh Goldberg yang untuk yang dalam penelitian ini penulis akan menyebut “Faktor Lima Besar” adalah sebagai berikut:

  1. Neuroticism (N)
  2. Extraversion (E)
  3. Openness (O)
  4. Agreeableness (A)
  5. Conscientiousness (C)

Untuk mengilustrasikan makna dari faktor-faktor tersebut, berikut adalah sejumlah kata sifat yang mendeskripsikan nilai tinggi atau rendah seseorang untuk tiap-tiap faktor :

Karakteristik Nilai yang Lebih Tinggi

Skala Sifat

Karakteristik Nilai yang Lebih Rendah

Cemas, gugup, emosional, tidak aman, tidak cakap, hyphocodriacal

NEUROTICISM (N)

Penilaian atas kemampuan penyesuaian vs ketidakstabilan emosi. Mengidentifikasi individu yang rentan terhadap tekanan psikologis, ide yang tidak realistis, kecanduan atau dorongan yang berlebihan, dan respins coping yang maladaptif.

Tenang, rileks, tidak emosional, kukuh, aman, puas diri

Dapat bersosialisasi aktif, senang bercakap-cakap, people oriented, optimistis, menyukasi keriaan, lembut

EXTRAVERSION (E)

Menilai kualitas dan intensitas interaksi interpersonal, kebutuhan akan stimulasi, dan kapasitas untuk menikmati.

Menahan diri, bijaksana, tidak gembira, menyendiri, berorientasi pada tugas, menarik diri, diam

Ingin tahu, minat yang luas, kreatif, orisinal, imajinatif, tidak tradisional

OPENNESS (O)

Menilai pencarian proaktif dan penghargaan terhadap pengalaman untuk dirinya sendiri, toleransi bagi dan eksplorasi terhadap yang tidak biasa.

Konvensional, membumi, sedikit minat, tidak artistic, tidak analitis

Lembut, ramah, dipercaya, membantu, memaafkan, mudah dibujuk, terang-terangan

AGREEABLENESS (A)

Menilai kualitas orientasi interpersonal seseorang sepanjang kontinum dari perasaan terhadap antagonism dalam pemikiran, perasaan, dan tindakan.

Klinis, kasar, curiga, tidak kooperatif, pendendam, bengis, pemarah, manipulatif

Terorganisir, dapat diandalkan, pekerja keras, disiplin diri, tepat waktu, cermat, rapi, ambisius, keras hati

CONSCIENTIOUSNESS (C)

Menilai tingkat organisasi, ketekunan dan motivasi dalam perilaku yang berarah tujuan. Berlawanan dengan orang yang bergantung pada orang lain, dan cerewet dengan mereka yang malas dan pembangkang

Tidak berjuang, tidak dapat diandalkan, malas, acuh, sembrono, lemah niat, hedonistis

  1. B.      Tipe Kepemimpinan

Efektivitas kepemimpinan seseorang dilandasi dengan modal bakat yang dibawa sejak lahir akan tetapi ditumbuhkan dan dikembangkan melalui dua jalur, yaitu kesempatan untuk menduduki jabatan pimpinan dan kesempatan untuk menempuh pendidikan dan pelatihan kepemimpinan (Siagian, 2003).

Sebagian ilmuwan dan praktisi berpendapat bahwa gaya kepemimpinan seseorang tidak berubah menghadapi situasi yang bagaimanapun. Sedangkan sebagian lain menganggap bahwa gaya kepemimpinan seseorang sangat bersifat situasional. Menurut teori situasional, seorang pimpinan yang otokratis, akan mengubah gaya kepemimpinannya dengan gaya yang lain, misalkan dengan gaya yang agak demokratis apabila situasi tertentu menuntutnya, apalagai jika konsistensi gaya otokratis justru akan membahayakan kedudukannya sebagai pemimpin.

Namun praktek situasional tersebut, sebenarnya tidaklah mengubah pendiriannya tentang persepsinya mengenai kepemimpinan yang efektif. Akan tetapi demi keberlangsungan kepemimpinannya ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali melakukan penyesuaian-penyesuaian – yang kemungkinan hanya bersifat sementara – yang dituntut oleh situasi yang dihadapinya (Siagian, 2003).

Gaya kepemimpinan bisa nampak dari cara melakukan pekerjaan seperti cara memerintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara menegakkan disiplin, cara melakukan control, cara meminta laporan, cara menegur bawahan, cara meminta pertanggung jawaban, dan lain-lain (Rivai, 2003).

Dalam penelitian ini, penulis mengelompokkan tipe kepemimpinan dengan mengacu pada Model Kepemimpinan Managerial Grid. Dalam model manajerial grid yang disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996) memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya terhadap tugas dan perhatian pada orang. Kedua sisi tinjauan model kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan, yaitu antara 0 sampai dengan 9.

Dalam pemikiran model managerial grid adalah seorang pemimpin selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja dengan manusia sebagai bawahannya. Artinya bahwa seorang pemimpin tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan faktor hubungan dengan bawahannya, sehingga seorang pemimpin dalam mengambil suatu sikap terhadap tugas, kebijakan-kebijakan yang harus diambil, proses dan prosedur penyelesaian tugas, maka saat itu juga pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau bawahannya secara baik. Menurut Blake dan Mouton ini, kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim tersebut.

Gaya kepemimpinan Managerial Grid berpijak pada dua dimensi perilaku, yaitu concern to people (perhatian pada orang) dan concern to production (perhatian pada produksi). Kedua dimensi ini bisa kita perjelas sebagai berikut:

  1. Concern to people; ini adalah tingkat di mana pimpinan memikirkan kebutuhan anggota timnya, apa ketertarikan mereka, dan bidang pengembangan personal.
  2. Concern to production; tingkat di mana pimpinan memberikan penekanan pada objek nyata, efisiensi organisasi, dan produktivitas yang tinggi.

Untuk mengilustrasikan posisi masing-masing leadership pada kecenderungan antara concern to people dan concern to production, Blake Mouton menetapkan beberapa tipe kepemimpinan yang Nampak pada gambar berikut :

Impoverished

Task/produce

Concern to P R O D U C T I O N

high

low

Midde of The Road

Country Club

Team Leader

Concern to PEOPLE

high

 

 

 

 

 

 

 

Impoverished leadership (low production low people), tipe kepemimpinan ini sangat tidak efektif, tidak memiliki perhatian yang tinggi baik untuk menciptakan system bagi terlaksananya pekerjaan maupun untuk menciptakan lingkungan kerja yang memuaskan dan memotivasi. Hasilnya adalah tempat kerja yang tidak terorganisasi, tidak terpuaskan, dan tidak harmonis.

Country Club leadership (high people low production), tipe kepemimpinan ini sangat memperhatikan kebutuhan, perasaan anggota atau bawahannya. Pimpinn dengan tipe seperti ini berasumsi bahwa selama bawahan atau anggota merasa aman dan sejahtera maka mereka akan bekerja keras, kepemimpinan ini cenderung menghasilkan lingkungan pekerjaan yang sangat santai dan riang, namun produktivitas buruk dikarenakan kurangnya kontrol dan arahan.

Task leadership (high production low people), kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-waktu dapat diganti. Pegawai hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan ini memiliki peraturan, kebijakan, dan prosedur kerja yang keras. Memandang sanksi merupakan alat yang efektif untuk memotivasi pegawai.

Middle of the road (medium production medium people), tipe ini nampak seimbang di antara dua dimensi, baik perhatian pada orangnya ataupun pada produksi. Pada awalnya, tipe ini akan Nampak sebagai kompromi yang ideal. Orang dengan tipe kepemimpinan ini menempati prestasi kerja rata-rata dan kebanyakan meyakini bahwa itulah yang bisa diharapkan oleh setiap orang.

Team leadership (high people high production), menurut model kepemimpian Blake Mouton, tipe kepemimpinan ini adalah puncak dari tipe kepemimpinan. Pimpinan tipe ini sama-sama memberikan penekanan pada kebutuhan produksi dan kebutuhan manusia pada porsi yang sama-sama tinggi. Dasar dari pemikiran ini adalah karena pegawai terlibat dalam memahami tujuan organisasi dan ikut menentukan kebutuhan-kebutuhan produksi. Ketika para pegawai telah berkomitmen, dan memiliki pertaruhan dalam kesuksesan organisasi, maka kebutuhan mereka dan kebutuhan produksi menjadi satu kesatuan. Hal ini akan membentuk sebuah lingkungan tim yang berdasarkan kepercayaan dan menghargai, yang akan membawa pada kepuasan dan motivasi yang tinggi, dan sebagai hasilnya ada produktivitas yang tinggi.

 


 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.      Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dnegan mengambi lokasi di kantor Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur II Lembaga Administrasi Negara (PKP2A II LAN) yang berlokasi di Jalan Raya Baruga No. 48 Antang, Makassar dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) LAN di Jalan A.P. Pettarani No. 61 Makassar.

  1. B.      Pendekatan dan Jenis Penelitian

Mengacu pada sasaran yang ingin dicapai, penelitian ini menggunakan metode penelitian Kuantitatif. Penulis ingin membangun fakta terkait hubungan antara kedua variabel sebagaimana tersebut di atas.

  1. C.      Metode Pengumpulan Data

Dalam memperoleh data penulis menggunakan kuisioner untuk menggali informasi terkait tipe kepemimpinan dan skala psikologi untuk menggali informasi terkait tipe kepemimpinan dari masing-masing responden. Namun dalam teknis pengumpulannya, masing-masing responden akan terlebih dahulu diberikan kuisioner tipe kepemimpinan untuk diisi, baru selang beberapa hari kemudian akan diberikan alat ukur skala psikologi untuk mengetahui tipe kepribadian responden. Hal ini dilakukan dalam rangka meminimalisir manipulasi jawaban responden.

  1. D.      Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
  • Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai pada Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Apratur II (PKP2A II) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara di Makassar.
  • Teknik Pengambilan Sampel yang dipilih oleh penulis dalam penelitian ini adalah stratified random sampling (sampel secara random bertingkat) dengan model proporsional. Dalam hal ini penulis akan memilih semua pejabat struktural dan pegawai dengan pendidikan minimal strata 2 (S2) yang telah bekerja di lingkup pemerintahan minimal 5 (lima) tahun.
  1. E.       Instrument Penelitian
  • Kuisioner yang dipakai oleh penulis dalam melihat tipe kepemimpinan dan kepribadian responden menggunakan pertanyaan terstruktur dengan model jawaban menggunakan Skala Pengukuran Sikap Likert, namun dalam penerapannya penulis hanya akan menggunakan 4(empat) pilihan jawaban, yakni sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju.
  • Secara umum metode pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah terstuktur dan terbuka. Responden akan diberikan penjelasan umum dari dari materi kuisioner yang diberikan.
  1. F.       Teknik Analisis Data

Berdasarkan jenis data yang akan terkumpul dari model skala yang dipakai dalam instrument, maka penulis akan menggunakan teknik analisis statistik parametrik, dengan rumus korelasi Pearson. Dengan alat ini, akan nampak hasil penelitian ada atau tidaknya hubungan antara kedua variabel. Korelasi yang terjadi bisa positif (searah), artinya jika variabel pertama besar maka variabel kedua juga semakin besar. Korelasi juga bisa bersifat negative (berlawanan arah), artinya jika variabel pertama besar maka variabel kedua semakin kecil atau sebaliknya.

Patokan hasil perhitungan korelasi adalah sebagai berikut :

  • < 0,20                                          : hubungan dianggap tidak ada
  • 0,20 – 0,40                                 : hubungan ada, tapi rendah
  • > 0,40 – 0,70                             : hubungan cukup
  • > 0,70 – 0,90                             : hubungan ada, dan tinggi
  • > 0,90 – 1,00                             : hubungan ada, dan sangat tinggi

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sarwono, Jonathan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu

Pervin, Lawrence A. dkk. 2010. Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian (terjemah oleh A.K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Siagian, Sondang P. 2003. Teori & Praktek Kepemimpinan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Rivai, Veithzal. 2003. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakara: Raja Grafindo Persada

Sukardi, Dewa Ketut. 1993. Psikologi Pemilihan Karier (disadur dari The Psychology of Vocational Choice by John L. Holand). Jakarta: PT. Rineka Cipta

Aprilia, Adriana dkk. Analisa Pengaruh Tipe Kepribadian dan Gaya Komunikasi Public Relations Manager Hotel ”X” Surabaya dalam Membangun Hubungan Baik dengan Media dan Meningkatkan  Publisitas. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari www.puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/hot/article/viewFile/16514/16506

Septiani, Ratih Dwi. 2010. Pengaruh Tipe Kepribadian dengan Derajat Hipertensi pada Pasien Hipertensi Wanita Usia 30-50 Tahun di Puskesmas Gilingan Surakarta. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari http://etd.eprints.ums.ac.id/9529/1/J210080107.pdf

Norwanda, Ade. 2008. Pengaruh Tipe Kepribadian Locus of Control terhadap Prestasi Kerja Karyawan pada Perusahaan Kerajinan Perak. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari http://eprints.umm.ac.id/7130/1/x.pdf

Wulansari, Ida. 2007. Pengaruh Tipe Kepribadian dan Kreativitas Siswa terhadap Prestasi Belajar Ekonomi Kelas XI IPS MAN I Surakarta Tahun 2007/2008. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari www.etd.eprints.ums.ac.id/10685/4/hal.depan.pdf

Setiawan, Arif. Analisis Hubungan Tipe Kepribadian Pemimpin dengan Gaya Kepemimpinan yang Ditampilkannya Menurut Persepsi Bawahan. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/abstrakpdf

Payauw, Wapannuri Julan. 2008. Gaya Kepemimpinan Efektif, Tak Akan Lepas dari Kepribadian Anda. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari www.wapannuri.com/a.kepemimpinan/kepemimpinan_efektif.html

_____________, Blake Mouton Managerial Grid: Balancing Task- and People-Oriented Leadership. Diunduh pada bulan Juli 2011 dari  www.mindtools.com/pages/article/newLDR_73.htm

T E O R I P S I K O D I N A M I K A


Aspek

Perbandingan

Tokoh psikoanalisa

Freud

Jung

Adler

Erikson

Fromm

Horney

Sullivan

Konsep dasar

Perilaku lebih dipengaruhi oleh kejadian masa lalu daripada masa kini dan masa yang akan datang

Manusia lebih banyak dipengaruhi motivasi oleh pikiran-pikiran sadar, sebagian oleh gambaran ketidaksadaran personal, dan sebagian lagi oleh jejak memori laten yang turun temurun.

Manusia pada dasarnya mampu menentukan dirinya sendiri, bahwa interpretasi manusia terhadap pengalaman lebih penting daripada pengalaman itu sendiri. Bukan masa lalu ataupun masa depan yang mempengaruhi perilaku saat ini, justru persepsi kita saat ini terhadap pengalaman masa lalu dan harapan di masa depan yang memotivasi  kita.

Erikson meyakini bahwa anatomi adalah takdir, namun hal itu terlebih dahulu harus dipadukan dengan kejadian masa lampau termasuk beragam dimensi kepribadian dan sosial seperti temperamen dan intelegency, akan menentukan seseorang akan menjadi seperti apa.

Kepribadian manusia dapat dimengerti hanya dengan memahami sejarahnya. Fromm percaya bahwa hanya manusia yang sadar akan diri mereka sendiri dan keberadaannya. Manusia adalah satu-satunya species yang telah mengembangkan kombinasi antara kekuatan instingtif minimal dan perkembangan otak maksimal.

Konsep dasar humanisme Horney berdasarkan hamper seluruh pengalaman klinisnya dengan pasien neurotik. Menurutnya perbedaan utama antara orang sehat dengan orang neurotic adalah pada tingkat kompulsivitas di mana masing-masing bergerak mendekati, melawan, atau menjauhi orang lain.

Semua orang merupakan manusia yang lebih sederhana dari lainnya, kesamaan antar manusia jauh lebih penting daripada perbedaannya. Manusia lebih menyerupai manusia dibanding apapun lainnya.

 

Aspek

Perbandingan

Tokoh psikoanalisa

Freud

Jung

Adler

Erikson

Fromm

Horney

Sullivan

Struktur

Kepribadian

Id, Ego, dan Super Ego

Kesadaran dan ego, Ketidaksadaran Personal, Ketidaksadaran Kolektif, Arketipe.

 

Body Ego, Ego Ideal, dan Ego Identity

 

 

Dinamisme, Personifikasi, System Self, Proses Kognitif

Dinamika

kepribadian

Insting kehidupan dan insting kematian, kecemasan, system pertahanan ego

Kausalitas dan teleologi; progresi dan regresi.

Superioritas (berjuang untuk meraih sukses) sebagai kekuatan dinamis di balik perilaku manusia; Persepsi Subjektif; Kesatuan dan Self Consistency; Minat sosial; Gaya hidup; Daya Kreatif

Kepercayaan dan penghargaan; otonomi dan kemauan; kerajinan dan kompetensi; identitas dan kesetiaan; keakraban dan cinta; generativitas dan pemeliharaan; serta integritas.

Keterhubungan; keunggulan; keberakaran; kepekaan akan identitas; kerangka orientasi; mekanisme pelarian; kebebasan positif; gangguan kepribadian

Konflik dan kecemasan dasar

Tegangan (tension); Transformasi Energi (Energy Transformation)

Perkembangan kepribadian

Tahap oral, anal, phallic, laten, dan genital

Masa kanak-kanak, masa muda, masa pertengahan, masa tua

Perkembangan abnormal: Cacat fisik yang buruk, gaya hidup manja, gaya hidup diabaikan.

Fase bayi; fase anak-anak; usia bermain;usia sekolah; adolesen; dewasa awal; dewasa; usia tua.

 

 

Masa bayi; masa kanak-kanak; masa juvenile; masa praremaja; masa remaja awal, masa remaja akhir; masa dewasa

Evaluasi teori (Kekuatan&

Kelemahan Teori)

Kekuatan :

  • Freud menyadarkan kita tentang dua dorongan yang sangat mempengaruhi kita yakni id dan superego; menyadarkan kita  bahwa banyak perilaku kita yang dipengaruhi aspek biologis dan betapa besar pengaruh keluarga, lingkungan dan masyarakat terhadap pembentukan kepribadian
  • Teori dasar freud yang merujuk pada Breuer, bahwa ada gejala neurotik tertentu yang disebabkan oleh trauma-trauma psikologis.
  • Ide tentang pertahanan ego
  • Pola terapi

 

Kelemahan :

  • Diantara teori Freud yang kurang bisa diterima adalah Oedipal Kompleks, Kecemasan pengebirian, dan kecemburuan terhadap penis

Kekuatan:

  • Jung memandang manusia sebagai makhluk yang kompleks dengan banyak kutub yang berlawanan. Pandangannya tentang manusia tidak psimistis maupun optimistis, tidak deterministis maupun purposive.

 

Kelemahan :

  • Sebagian besar bukti mengenai konsep dari arketipe dan ketidaksadaran kolektif berasal dari pengalaman mendalam yang dialami oleh Jung sendiri. Konsep ketidaksadaran kolektif tidak mudah diteliti secara empiris, secara keseluruhan teori Jung dinilai rendah untuk kemampuan penerapannya.

Kekuatan:

  • Teori adler telah banyak dijadikan dasar penelitian tentang ingatan masa kecil, minat sosial, dan gaya hidup. Secara umum psikologi individual mencakup penjelasan yang mungkin tentang perilaku dan perkambangan   manusia.

 

Kelemahan :

  • Teori ini memiliki kelemahan dalam definisi operasional yang tepat. Istilah-istilah seperti “tujuan untuk superioritas” (goal of superiority), dan daya kreatif tidak memiliki definisi ilmiah sehingga akan mempersulit seseorang dalam melakukan penelitian .

Kekuatan :

  • Erickson melanjutkan atau melengkapi karya Freud dalam menganalisis perkembangan manusia, di sisi lain pandangannya tentang manusia yang bersifat optimistik menentang pendapat Freud yang bersifat psimistik. Dan teorinya tentang ego kreatif memperlunak teori Freud.

 

Kelemahan :

  • Erickson membangun teorinya terutama dalam hal memakai prionsip-prinsip etika tidak selalu didukung oleh data ilmiah. Dia dating dari dunia seni, sehingga melihat dunia lebih sebagai seorang artis bukan ilmuwan. Data-data yang dia kumpulkan untuk membangun teorinya termasuk data observasi dideskripsikan secara subjektif dan dianalisa secara subjektif pula.

Kelemahan :

  • Istilah-istilah yang digunakan Fromm yang tidak jelas dan samar menjadikan gagasan-gagasannya sulit dijadikan dasar penelitian empiris
  • Teori Fromm terlalu filosofis untuk dapat dibenarkan atau diverifikasi

 

Kekuatan:

  • Kekuatan teori Horney terletak pada gambarannya yang jelas tentang kepribadian neurotik, sehingga menyediakan informasi yang sangat baik untuk memahami orang-orang yang kurang sehat mental

 

Kelemahan :

  • Teori Horney dianggap lemah untuk menganalisa orang-orang pada umumnya, karena lebih banyak bicara tentang neurotik.

Kekuatan :

  • Pentingnya hubungan interpersonal bagi kesehatan psikologis

 

Kelemahan :

  • Kurangnya pengujian teori Sullivan mengurangi kegunaannya sebagai panduan praktis bagi orangtua, guru, psikoterapis, dan lainnya yang peduli akan pengasuhan anak dan remaja.

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN


Secara singkat, perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development). (McLeod, 1989).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.

Selanjutnya, Dictionary of pyscology lebih jelas merinci pengertian perkembangan sebagai berikut:

  1. The progressive and continous change in the organism from birth to death, perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus-menerus dalam diri organisme sejak lahir hingga mati.
  2. Growth, perkembangan itu berarti pertumbuhan.
  3. Change in the shape and integration of bodily parts into function parts, perkembangan berarti perubahan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang bersifat jasmaniah ke dalam bagian-bagian yang fungsional.
  4. Maturation or the appearance of fundamental pattern of unlearned behavior, perkembangan itu adalah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah rangkaian perubahan manusia menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna yang nampak dari jasmani maupun rohaninya.

Merupakan suatu kepastian bahwa setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia senantiasa berlangsung seiring dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar dalam hal ini tidak berarti merupakan kegiatan belajar yang ilmiah. Tugas belajar yang muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar keterampilan melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yang lazim tenjadi pada manusia normal. Di samping itu, faktor lain yang juga menimbulkan tugas-tugas perkembangan tersebut adalah:

1) karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu;

2) karena adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang benkembang itu sendini

3) karena adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.

Perkembangan anak dipengaruhi oleh 2 faktor utama:

  1. Faktor bawaan (herediter). Merupakan suatu kondisi yang ‘terberi’ sejak lahir seperti potensi kecerdasan, bakat, minat dan kecenderungan atau sifat yang diturunkan dari orang tua.
  2. Faktor pengalaman (lingkungan). Merupakan suatu kondisi yang dialami anak sepanjang kehidupannya baik di rumah, sekolah maupun lingkungan pergaulan di luar rumah. Setiap anak mengembangkan pola perilaku yang unik sesuai dengan pengalamannya yang berbeda-beda dalam pemenuhan dan pengembangan kebutuhannya.

Perkembangan manusia yang berkaitan dengan fisik sebagian besar dipengaruhi oleh gen, namun tidak demikian jika sudah menyangkut hal-hal yang nonfisik atau sifat dan kepribadian. Dalam hal tersebut gen bukan satu-satunya yang menentukan sifat dan kepribadian manusia secara utuh. Pada awalnya memang beberapa filusuf mempunyai pandangan bahwa manusia sudah diprogram dari rahim melalui susunan genetik yang didapat dari kedua orang tua. Dengan kata lain faktor keturunanlah yang memegang peranan dalam membentuk kepribadian seseorang.

Tapi hal ini bertentangan dengan pendapat John Locke, seorang filsuf dari Inggris, berpendapat bahwa seorang manusia dilahirkan dengan pikiran yang berupa tabula rasa seperti papan tulis yang putih bersih tanpa kemampuan atau pengetahuan bawaan yang tertulis di atasnya. Segala watak manusia, menurut Locke, seluruhnya merupakan hasil pengalaman atau hasil interaksinya dengan lingkungan.

Seiring dengan kemajuan zaman, para ahli gen mengambil jalan tengah. Manusia menunjukkan perilaku tertentu karena adanya semacam interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan. Saking eratnya faktor keturunan dan lingkungan ini berhubungan sampai-sampai perbandingan efeknya pada seseorang tidak bisa dihitung dengan pasti apakah 50 persen: 50 persen ataukah 90 persen : 10 persen atau angka lainnya.

Sebagai misal seorang anak yang lahir dari orang tua yang sangat cerdas. Meskipun anak tersebut belajar biasa-biasa saja, akan optimal hasilnya karena faktor gen dari orangtua. Sama halnya, anak yg lahir dari pasangan orang tua yang biasa-biasa saja namun usahanya belajar luar biasa, maka kepintarannya akan sama seperti anak pertama itu.

Akan berbeda hasilnya kalau anak yang lahir dari orang tua cerdas terus belajar keras, maka akan menjadi anak yang luar biasa. Sebaliknya, anak yang lahir dari orang tua biasa saja, kemudian belajar hanya biasa saja, maka jadilah anak biasa-biasa saja.

Begitu juga dengan bakat seni. Ambil contoh saja keluarga Johan Sebastian Bach, komponis musik klasik terkenal. Bila dilihat dari silsilah keluarganya, ternyata Johan Sebastian memiliki ayah yang juga pemusik. Begitu juga keempat saudaranya. Bakat musik dipengaruhi oleh gen. Tapi jangan lupa lingkungan juga harus mendukung. Misalnya, bila seorang bapak adalah pemusik lalu dia memiliki gen dominan, maka anaknya kemungkinan akan memperoleh gen tersebut. Apalagi bila si bapak sering memutar musik yang ia sukai, klasik, misalnya, maka anaknya akan sering mendengar jenis musik itu. Sehingga ia juga akan menyukai musik klasik.

Dari uraian di atas saya berpendapat bahwa faktor gen dan lingkungan memiliki potensi yang sama untuk membentuk perkembangan seseorang. Tidak dapat diklaim bahwa faktor gen lebih dominan dari pada faktor lingkungan, demikian juga sebaliknya. Karena setiap manusia akan menempuh waktu dan kondisi yang berbeda. Seseorang bisa saja hidup dalam kondisi lingkungan yang memiliki pengaruh kuat dan pada orang lain mungkin saja tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang tidak memberikan pengaruh kuat pada individu-individu di sekitarnya.

Hal ini diperkuat oleh ucapan Nabi Muhammad S.A.W. bahwa “Tidak seorangpun anak melainkan dilahirkan atas dasar fitrah (bersih). Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashara atau Majusi. Nabi Muhammad S.A.W. menegaskan bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan bersih hatinya, namun seiring pertumbuhan di bawah orang tua yang mnegasuhnya maka dia bisa saja menjadi seorang penganut agama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Namun demikian Nabi Muhammad juga tidak mengingkari adanya pengaruh gen dalam perkembangan manusia sehingga Beliau menghimbau kita dalam memilih pasangan hidup dari keluarga yang baik-baik.

Sumber :

http://makalahdanskripsi.blogspot.com/

http://asmbektim.tripod.com/renung/renungGSM02c.htm

http://alinasheart.multiply.com/ust.udo.htm

http://tabloid-nakita.com/artikel.php3.htm

Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari no. 1358, 1359, 1385, 4775 dan 6599

dan Muslim juz 8 hal, 52-54

TEORI KEPRIBADIAN ALIRAN PSIKOANALISA SIGMUND FREUD

DEFINISI KEPRIBADIAN

Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris, yaitu personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa latin persona, yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Pada saat pertunjukan para aktor tidak menampilkan kepribadian yang sesungguhnya melainkan menyembunyikan kepribadiaannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai dari topeng yang digunakannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan

  1. identitas diri, jati diri seseorang, seperti: “Saya seorang yang pandai bergaul dengan siapa saja”, atau “Saya seorang pendiam”,
  2. kesan seseorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif”, atau “Dia jujur”, dan
  3. fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seperti: “Dia baik”, atau “Dia pendendam”.

Banyak istilah yang digunakan yang memiliki kedekatan arti dengan istilah kepribadian, seperti karakter, watak, temperamen, ciri-ciri, dan kebiasaan. Adakah istilah-istilah lain yang dapat anda sebutkan selain istilah-istilah yang dicontohkan di atas? Berikut diuraikan arti dari istilah-istilah tersebut.

  • Personality (kepribadian): penggambaran tingkah laku secara deskriptif tanpa memberi nilai (devaluative).
  • Character (karakter): penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
  • Dispotition (watak): karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah.
  • Temperamen (temperamen): kepribadian yang berkaitan erat dengan determinan biologik atau fisiologik, disposisi hereditas.
  • Traits (sifat): respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam kurun waktu yang (relatif) lama.
  • Type–attribute (ciri): mirip dengan sifat, namun dalam kelompok stimuli yang lebih terbatas.
  • Habit: kebiasaan respon yang sama cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula.

Untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut lentang kepribadian, berikut dikemukakan beberapa pengertian dari para ahli.

Allport mengemukakan bahwa “Personality is the dinamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment to his environtment”. Secara harfiah, pengertian itu dapat diartikan bahwa: “kepribadian merupakan organisasi yang dinamis dalam diri individu tentang sistem psikofisik yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungannya”.

Secara lebih rinci definisi Allport ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Dynamic, merujuk kepada perubahan kualitas perilaku (karakteristik) individu, dari waktu ke waktu, atau dari situasi ke situasi.
  2. Organization, yang menekankan pemolaan bagian-bagian struktur kepribadian yang independen, yang masing-masing bagian tersebut mempunyai hubungan khusus satu sama lainnya. Ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bukan kumpulan sifat-sifat, dalam arti satu sifat ditambah dengan yang lainnya, melainkan keterkaitan antara sifat-sifat tersebut, yang satu sama lainnya saling berhubungan atau berinterelasi.
  3. Psychophysical Systems, yang terdiri atas kebiasaan, sikap, emosi, motif, keyakinan, yang kesemuanya merupakan aspek psikis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam diri individu, seperti: syaraf, kelenjar, atau tubuh individu secara keseluruhan. Sistem psikofisik ini meskipun mempunyai fondasi pembawaan, namun dalam perkembangannya lebih dipengaruhi oleh hasil belajar, atau diperoleh melalui pengalaman.
  4. Determine, yang menunjuk pada peranan motivasional sistem psikofisik. Dalam diri individu, sistem ini mendasari kegiatan-kegiatan yang khas, yang mempengaruhi bentuk-bentuk. Sikap, keyakinan, kebiasaan, atau elemen-elemen sistem psikofisik lainnya muncul melalui sistem stimulus, baik dari lingkungan, maupun dari dalam diri individu sendiri.
  5. Unique, yang menunjuk pada keunikan atau keragaman tingkah laku individu sebagai ekspresi dari pola sistem psikofisiknya. Dalam proses penyesuaian diri terhadap lingkungan, tidak ada reaksi atau respon yang sama dari dua orang, meskipun kembar identik.

Dalam Ensiklopedia Wikipedia kata kepribadian didefinisikan sebagai “a dynamic and organized set of characteristics possessed by a person that uniquely influences his or her cognitions, motivations, and behaviors in various situations.” Arti harfiah dari definisi ini adalah bahwa kepribadian merupakan serangkaian karakteristik yang dinamis dan terorganisasi yang dimiliki oleh seseorang yang secara unik mempengaruhi kognisi, motivasi, tingkah laku orang tersebut dalam berbagai situasi. Pengertian ini tampaknya senada dengan pengertian yang dibuat Allport sebagaimana dikutip di atas.

Pengertian yang dikemukakan oleh Allport ini menunjukkan bahwa kepribadian itu bersifat dinamis dan unik. Dinamika kepribadian terkait dengan dimensi waktu dan lingkungan dimana individu itu berada. Keunikan kepribadian membuat setiap individu memberikan reaksi atau respon yang berbeda-beda terhadap lingkungan.

Dinamika dan keunikan kepribadian bukan semata-mata sebagai pembawaan namun juga merupakan hasil dari interaksi individu dengan lingkungan yang berupa pengalaman atau hasil belajar. Dengan kata lain, meskipun kepribadian merupakan karakteristik khusus yang ada pada diri individu, akan tetapi pengalaman dan pembelajaran dapat merubah dan mengembangkan karakteristik itu kearah kepribadian yang lebih menguntungkan bagi diri dan lingkungannya.

Bagi kepala sekolah, dinamika kepribadian harus sejalan dengan perannya sebagai pemimpin. Perubahan-perubahan kepribadiannya hendaknya mendukung keefektifan kepemimpinan yang dijalankan. Oleh karena itu, setiap keunikan respon atau reaksi kepala sekolah terhadap lingkungan juga harus berupa tingkah laku yang unik yang menguntungkan perannya sebagai pemimpin.

Oleh karena kepribadian merupakan pengalaman dan hasil belajar maka ketika seseorang mendapat peran sebagai pemimpin harus diubah dan disesuaikan dengan tuntutan peran ini. Bagaimanakah seharusnya kepribadian berpengaruh terhadap kepemimpinan? Bagaimana seharusnya kepribadian seorang pemimpin? Berikut diuraikan beberapa karakteristik kepribadian yang efektif bagi kepemimpinan.

Pemikiran dan Teori Sigmund Freud

  • Freud membagi mind ke dalam consciousness, preconsciousness dan unconsciousness. Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas.
  • Freud mengembangkan konsep struktur mind di atas dengan mengembangkan ‘mind apparatus’, yaitu yang dikenal dengan Struktur Kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego.
    • Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
    • Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral.
    • Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, a.l. repression.

Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari  id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan

Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional

c. Sumbangan Freud

  • Sebagai orang pertama yang menyentuk konsep-konsep psikologi seperti peran ketidaksadaran (unconsciousness), anxiety, motivasi, pendekatan teori perkembangan untuk menjelaskan struktur kepribadian
  • Posisinya yang kukuh sebagai seorang deterministik sekaligus menunjukkan hukum-hukum perilaku, artinya perilaku manusia dapat diramalkan
  • Freud juga mengkaji produk-produk budaya dari kacamata psikoanalisa, seperti puisi, drama, lukisan, dan lain-lain. Oleh karenanya ia memberi sumbangan juga pada analisis karya seni

 

d. Kritik Freud

  • Metode studinya yang dianggap kurang reliabel, sulit diuji secara sistematis dan sangat subyektif
  • Konstruk-konstruk teorinya juga sulit diuji secara ilmiah sehingga diragukan keilmiahannya. Beberapa konsepnya bahkan dianggap fiksi, seperti Oedipus complex
  • Bagi aliran behaviorist, yang dilakukan Freud adalah mempelajari intervening variable

Freud banyak memiliki murid. Tidak semuanya akan dibahas, hanya dua dari para pengikut itu yang akan dibahas di sini, yaitu Adler dan Jung.

 

Persepsi tentang sifat manusia

Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik

Struktur Kepribadian

Kesadaran dan ketidaksadaran

Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.

Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

Kecemasan

Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Gerald Corey mengartikan kecemasan itu adalah sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Fungsinya adalah mengingatkan adanya bahaya yang datang.

Sedangkan menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral. (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata. (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat membuatnya terhukum, dan (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Mekanisme pertahanan ego

Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan
 

Perkembangan kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.