KAJIAN ANALISA KOMUNITAS AN-NADZIR


 

  1. I.              LATAR BELAKANG

Kemajemukan karakter individu merupakan suatu fenomena yang biasa kita dapatkan dalam kehidupan keseharian kita. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dengan orang lain, memiliki cara berbicara yang tidak sama satu dengan yang lain, serta watak atau cara bersikap. Namun jika perbedaan nampak muncul dengan jelas pada suatu kelompok manusia dalam hitungan yang tidak sedikit atau sudah cukup layak untuk kita sebut sebagai komunitas, hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dan membutuhkan jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebuah komunitas yang khas dengan rambut panjang dan pirang bagi kaum pria, memilih warna hitam atau gelap sebagai pilihan utama dalam berbusana terutama ketika ingin beribadah, berkelompok hidup di daerah pinggiran yang jauh dari kebisingan dan menamakan diri sebagai Jama’ah An-Nadzir mengusik rasa penasaran  untuk menelaah lebih dalam tentang siapa mereka dan bagaimana kehidupan yang mereka jalani serta landasan filosofi yang mereka pegang.

Menurut Mac Iver dan Charles dalam Sosiolgi Suatu Pengantar (Soerjono Soekanto, 2000), tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut atau atas dasar berbagai kriteria ukuran. Salah satu ukuran yang dipakai adalah berlangsungnya suatu kepentingan. Suatu kerumunan massa merupakan kelompok yang eksis hanya sebentar saja karena kepentingan-kepentingan anggotanya tidak berlangsung dengan lama. Lain halnya dengan suatu komunitas yang kepentingan-kepentingannya relatif bersifat tetap (permanen).

Sesuai dengan tulisan Soerjono bahwa adakalanya dasar untuk membedakan kelompok-kelompok sosial adalah factor-faktor sebagai berikut:

  1. Kesadaran akan jenis yang sama
  2. Adanya hubungan sosial
  3. Orientasi pada tujuan yang sudah ditentukan

Sosiologi adalah sebuah ilmu pengetahuan yang didasarkan pada ilmu yang dapat diuji. Yang dimaksud dengan ” bukti “ adlah pengamatan factual yang dapat dilihat, ditimbang, dihitung, dan diperiksa ketelitiannya oleh para pengamat lainnya.Kegiatan mengamati atau mengobservasi haruslah dilakukan secara ilmiah. Observasi ilmiah memiliki beberapa syarat, diantaranya :

  1. Observasi ilmiah haruslah cermat. Para pengamat ilmiah berusaha menyakinkan bahwa apa yang digambarkan adalah sebagaimana adanya dan tidak melakukan lompatan dalam menarik kesimpulan.
  2. Observasi ilmiah haruslah tepat.Bila kecermatan mengacu pada kebenaran suatu pernyataan, maka ketepatan mengacu pada derajat atau pengukuran. Ilmuwan harus berusaha mencari ketepatan sesuai tuntutan situasi. Bila kondisi observasi yang terkendali.tidak memungkinkan, ilmuwan harus membuat perkiraan sampai data observasi yang lebih tepat dapat di kumpulkan.
  3. Obsevasi ilmiah harus sistematis. Observasi tidak akan teratur dan lengkap apabila tidak dilaksanakan dalam suatu program yang terorganisasi dan sistematis.
  4. Observasi ilmiah haruslah di catat, karena ingatan manusia tidak lepas dari kesalahan.
  5. Observasi ilmiah haruslah objektif. Ini berarti bahwa sebatas kemampuan manusia memungkinkan, observasi tidak dipengaruhi oleh kepercayaan atau keyakinan,preference,harapan serta nilai-nilai dari pengamat sendiri.Tetapi ia harus di tunjang oleh fakta.
  6. Observasi ilmiah dilaksanakan di bawah kondisi yang terkendali.

 

  1. II.            SEJARAH DAN KEADAAN GEOGRAFIS

Komunitas ini didirikan oleh Didirikan pada tahun 1998 oleh K.H. Syamsuri Abdul Majid, selanjutnya anggota jama’ah menyebut Al Imam Al Mahdi Abdullah atau biasa disingkat dengan sebutan AL-Imam. Sebelumnya beliau pernah aktif dalam gerakan dakwah Jama’ah Tabligh yang berpusat di Karachi, Pakistan. Kemudian menghimpun beberapa rekannya untuk memahami konsep pola pikirnya dan terbentuklah Annadzir yang kemudian memiliki ribuan pengikut yang sebagian besar adalah mantan pengikut gerakan Jama’ah Tabligh.

Jama’ah An-Nadzir (selanjutnya disebut komunitas) membentuk permukiman di tepian danau Mawang berlokasi di kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Jarak yang harus ditempuh dari kota Makassar adalah sekitar 20 kilo meter. Di sinilah bermukim pula Amir (pemimpin) yang ucapannya menjadi rujukan bagi seluruh anggota komunitas yang masih bermukim di luar daerah Gowa seperti kabupaten Maros dan kota Palopo. Selain di Sulawesi Selatan juga terdapat di kota Medan (Sumatera Utara) dan Jakarta serta sebagian kecil di luar negeri.

Lokasi komunitas ini sekitar 500 meter keluar dari jalan poros. Menempati rumah-rumah yang terbuat dari bambu dan beratap daun membuat mereka merasa telah bermana khidmat pada alam. Meski tidak terlalu jauh dari pusat hiruk pikuk perkotaan, namun suasana alam di pemukiman ini masih terkesan lestari. Pepohonan besar di sekitar rumah dan jalanan alternatif  di sekitar pemukiman yang masih berupa tanah, tanpa cor atau aspal.

 

  1. III.           POLA HIDUP & AJARAN YANG DIANUT
    1. a.    Pola Hidup

Jumlah Anggota:

Anggota komunitas ini kurang lebih 1000 (seribu) jiwa dengan jumlah sekitar 130 (seratus tiga puluh) Kepala Keluarga.

 

Aktivitas Pendidikan dan Mata Pencaharian:

Komunitas ini tidak beraktivitas membaur dengan masyarakat di sekitarnya. Mereka tidak memasukkan anak-anak ke dalam lembaga pendidikan formal yang ada pada umumnya.  Mereka mendidik anak-anak usia sekolah dengan konsep pendidikan yang mereka buat sendiri dalam sebuah madrasah yang terletak di tengah-tengah pemukiman.

Beberapa orang anggota jama’ah yang dianggap berkompeten di bidang pendidikan ditunjuk oleh Amir untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga komunitas ini. Konsep pendidikan yang mereka terapkan adalah pendidikan berbasis alam. Di dalam kelas mereka hanya belajar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Selebihnya mereka mempelajari ilmu alam dengan cara langsung membaur dengan alam.

Sebagai contoh, untuk mempelajari pola pertumbuhan tanaman sawah maka anak-anak di bawa langsung terjun di bidang pertanian, untuk memahami ilmu perkebunanmereka langsung masuk di area perkebunan, demikian juga untuk mendapatkan ilmu tentang perikanan maka mereka langsung terjun di area perikanan milik komunitas. Namun perlu digarisbawahi, bahwa komunitas ini tidak begitu saja membiarkan diri mereka jauh tertinggal dalam kecanggihan teknologi informasi. Dalam proses belajar mengajar, anak-anak diperkenalkan juga dengan computer jinjing (laptop), mereka juga mengakses berita melalui televisi yang ditempatkan hanya pada beberapa lokasi rumah dan hanya orang dewasa yang diperbolehkan menontonnya. Mereka juga memanfaatkan kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, komunitas ini memiliki lahan pertanian seluas 8 (delapan) hektar. Setiap kali masa panen maka setiap kepala keluarga mendapatkan jatah makanan pokok sesuai dengan kebutuhanya. Selain lahan pertanian komunitas ini juga memiliki lahan perkebunan dan perikanan serta bidang usaha lainnya.

Dalam mengelola mata pencaharian setiap anggota komunitas memiliki peran dan fungsi dalam mengelola setiap bidang usaha sesuai dengan kompetensi yang dimiliki masing-masing dan menurut keputusan Amir. Tidak ada seorangpun anggota komunitas ini yang memiliki mata pencaharian secara individual. Semua kebutuhan hidup anggota komunitas ditanggung bersama melalui bidang usaha yang dikelola bersama.

 

Ciri Penampilan

Dalam berpakaian, komunitas ini meyakini bahwa warna hitam adalah warna yang disukai oleh Sang Pencipta. Sehingga ketika mereka beribadah mereka senantiasa berjubah hitam, dengan surban dan songkok yang berbentuk kerucut. Kaum pria dari komunitas ini memanjangkan rambut hingga sebahu dan mewarnainya dengan warna merah tembaga atau kuning emas.

 

Sedangkan kaum wanita, sebagian besar menutup seluruh anggota tubuh mereka dengan jubah dan cadar. Pergaulan antara kaum wanita dan pria sangat dibatasi kecuali jika di antara mereka ada hubungan keluarga secara langsung.

 

  1. b.    Ajaran yang di anut

Komunitas inimengaku bahwa setiap amalan yang mereka perbuat atau cara-cara beribadah adalah bentuk konsistensi mereka dalam menjalankan petunjuk dari  Al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi interpretasi dari pengamalan dua pedoman tersebut berdasarkan pada pentafsiran  pendiri komunitas ini yang biasa di panggil dengan sebutan Al-Imam.

Analisa :

Diantara sosiolog-sosiolog yang mendasarkan teorinya pada sosiologi adalah Gabriel Tarde (1843-1904) dari Perancis. Dia mulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat psikologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jiwa tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan. Bentuk-bentuk utama dari interaksi mental individu adalah imitasi, oposisi, dan adaptasi atau penemuan baru. Imitasi seringkali berhadapan dengan oposisi yang menuduh pada bentuk adaptasi yang baru. Dengan demikian mungkin terjadi perubahan sosial yang disebabkan oleh penemuan-penemuan baru. Hal ini menimbulkan imitasi, oposisi penemuan-penemuan baru, perubahan-perubahan, dan seterusnya.

Keyakinan komunitas ini untuk berperilaku beda dari pada perilaku masyarakat pada umumnya merupakan suatu hasil interaksi individu dengan individu yang melakukan penemuan baru dalam hal berpola pikir, berperilaku, dan cara beribadah sehingga terbentuklah sebuah komunitas yang beda.

Menurut Weber ada 4 tipe ideal hukum, yaitu :

  1. Hukum irasional dan materiil; dimana pembentuk undang-undang dan hakim mendasarkan keputusan-keputusannya semata-mata pada nilai-nilai emosional tanpa menunjuk pada satu kaidahpun.
  2. Hukum irasional dan formal; dimana pembentuk undang-undang dan hakim berpedoman pada kaidah-kaidah di luar akal, oleh karena didasarkan pada wahyu atau ramalan
  3. Hukum rasional dan materiil; dimana keputusan-keputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksanaan penguasa atau ideology.
  4. Hukum rasional dan formal; dimana hokum dibentuk semata-mata atas dasar konsep-konsep abstrak dari ilmu hokum.

Jika kita menarik pembagian tipe hukum ideal menurut Weber ke dalam komunitas An-Nadzir maka bisa kita simpulkan bahwa komunitas ini menerapkan sukum rasional dan materiil.

 

  1. IV.          SISTEM KEKERABATAN

Komunitas An-Nadzir membentuk ikatan keluarga melalui proses perkawinan dua anak manusia yang disyahkan menurut hukum yang mereka yakini. Sehingga dalam hal ini komunitas An-Nadzir tidak memiliki perbedaan mencolok dengan kelompok manusia pada umumnya.

 

Menurut Paul Chester (1999)  Seperti semua lembaga, keluarga adalah suatu system norma dan tata cara yang diterima untuk menyelesaikan sejumlah tugas penting. Mendefenisiskan keluarga tidak begitu mudah karena istilah ini di gunakan dengan berbagai cara.

  1. Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama.
  2. Suatu kelompok kekerabatan yang di satukan oleh darah atau perkawinan.
  3. Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak.
  4. Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak.
  5. Satu orang dengan beberapa anak.

Para anggota suatu komunitas mungkin menyebut dirinya sebagai keluarga tetapi pada umumnya tidak mampu tinggal dalam sebuah rumah di suatu daerah yang ditetapkan sebagai daerah “tempat tinggal keluarga tunggal”.

 

Analisa :

Konsep keluarga yang dianut oleh komunitas ini sesuai dengan dengan defenisi keluarga menurut Paul dan Chester pada nomor 3 yakni “ Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak “

 

  1. V.           KESIMPULAN

Sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Beberapa orang sarjana telah mencoba untuk memberikan definisi masyarakat (society) seperti misalnya:

  1. Mac Iver and Page : Masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan, tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah ini kita namakan masyarakat. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan selalu berubah.
  2. Ralph Linton : Masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas
  3. Selo Soemardjan : Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa definisi masyarakat (komunitas) yang sesuai dengan realita An-Nadzir adalah kelompok manusia yang memiliki budaya, kebiasaan, dan telah hidup bersama dalam waktu yang cukup lama.

keluarga adalah suatu sistem norma dan tata cara yang diterima untuk menyelesaikan sejumlah tugas penting. Salah satu bentuk definisi keluarga adalah pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak.

Hukum rasional dan materiil dimana keputusan-keputusan para pembentuk undang-undang dan hakim menunjuk pada suatu kitab suci, kebijaksanaan-kebijaksanaan penguasa atau ideologi merupakan salah satu tipe hukum ideal yang diterpakan dalam komunitas An-Nadzir.

 

Referensi:

Soekanto, suryono. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Horton, Paul B.& Hunt, Chester L. Sosiologi. Alih bahasa : Aminuddin Ram & Tita Sobari. Jakarta : Penerbit Erlangga, 1999.

arowelitenggara.wordpress.com/2008/08/05/144

www.tempointeraktif.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: