Jangan Biarkan Obsesimu Menguasai Anakmu…

lomba mewarnai

2 Minggu lalu di kantor saya menyelenggarakan sebuah pameran, saya termasuk dari kru EO nya. Salah satu rangkaian acara untuk memeriahkan pameran ini adalah perlombaan mewarnai untuk anak usia 2-5 th. Nah, karena anak saya yang pertama, aisyah belum genap berusia 6 tahun, maka sy daftarkanlah dia ikut jadi peserta lomba di dampingi uminya.

Sebagai anggota panitia saya tidak mungkin dong mendampingi anak istri saya terus, maka saya tetap live in show pada tanggung jawab saya di pameran. Sepulang dari acara pameran istri saya memberikan sebuah cerita menarik seputar berlangsungnya acara lomba mewarnai.

“ Kak, tadi itu dinda melihat dua anak yang kasihan..” saya tanya. “kenapa kasihan..?”.” mereka menempatkan warna pada lukisan sangat apik, dinda yakin pemenang I dan II adalah mereka. Karena pilihan warna yang mereka letakkan pada masing-masing objek gambar sangat tepat dan penuh imajinasi.”

“ Trus apa masalahnya?”

“iya, mereka dikomandoi sama kedua ibu mereka. Hei, kasih warna hijau yang itu.. yg ini merah, jangan warna yang itu, kasih garis-garis, jangan terlalu tebal, kasih sedikit saja…..bla bla bla. Dinda tidak melihat ada ekspresi ceria dan puas dari kedua wajah anak itu.. yang ada adalah ekspresi wajah tegang. Kalau ada angota panitia bergerak mendekat, salah satu ibu berkata” awas awas ada panitia”.. jadi mereka berdiam dulu sejenak, begitu panitia menjauh.. mulai lagi komando nya..”

Dari cerita ini, saya ingin berbagi.. betapa kasihannya kedua anak tersebut. Mereka jauh-jauh dari rumah, dengan segala persiapan mewarnainya ternyata hanya untuk memenuhi kepentingan ibunya, yakni OBSESI. Padahal pola piker orang tua yang bijak dan tau didik, harusnya acara lomba begini adalah peluang yang besar untuk mengembangkan rasa percaya diri pada anak, bukan hadiah dan predikat juara yang dijadikan sasaran, tapi kemandirian, pengembangan bakat dan kreatifitas, daya imajinasi anak. Namun amat disayangkan, Orang tua semacam ini, telah menukar peluang untuk meningkatkan rasa percaya diri anak, demi obsesi mereka.

Jika pola asuh seperti ini yang terus diterapkan, hasilnya, yakin saja.. anak-anak mereka akan mengalami kesulitan untuk berani maju seorang diri tanpa didampingi sang ibu, setiap keindahan dan hasil kerja yang bagus dari tangan anak-anak mereka bukanlah hasil imajinasi otak mereka yang sebenarnya penuh potensi dan menunggu untuk distimulus.. tapi hasil dari imajinasi sang ibu. Dan setiap keberhasilan yang mereka capai, merupakan kepuasan sang Ibu bukan kepuasan batin mereka.

Wahai para orangtua dan calon orang tua, didiklah anak-anak kita dengan kasih sayang yang benar.  Dan untuk itu, maka kita tidak boleh sombong untuk selalu belajar bagaimana menjadi orang tua yang benar..

2 responses to this post.

  1. bener tuh mas, ngk selalu warna awan biru :D.

    Balas

    • hahahahahha, analogi yang unik. suka-suka ya? namanya juga anak diberikan anugrah imajinasi tanpa batas… kasihan malah diperhadapkan pada seribu batasan oleh ortunya..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: