Karakter Anakmu..

Di tikungan jalan itu, tak jauh dari komplek perumahan di mana aku tinggal.. seorang anak di bawah cahaya remang lampu penerang jalan yang berwarna kuning memberikan tanda dengan tangan kirinya, dan aku menangkapnya sebagai ungkapan “om.. boleh numpang ga?”.. mungkin sekitar jam 8 malam waktu makassar. Ku tekan perlahan tuas rem motor di kaki kananku sembari memberikan senyum pada anak berusia sekitar 10 tahun itu dan berkata “ ayo naik…”. Tidak lama setelah itu motorku segera melaju dengan anak itu di belakangku. Aku bertanya..” dari mana..?” anak itu menjawab dengan dialek kental makassar “ dari ka’ kerja om..cari uang kodong”..aku membalas “ooo, kerja apa..di mana?”. “ di panaikang ka’ Om.. cabut-cabut rumput”. Terdengar dari intonasi suaranya, anak ini sedang berusaha meraih simpatiku.. akupun memberikan apa yang dia inginkan.. sebuah “simpati” dengan caraku sendiri.. bukan dengan cara yang dia inginkan.

 
Sambari tetap melaju pelan di atas motor, aku mencoba menyelami anak ini. Pakaian yang dia kenakan meskipun tidak nampak mewah tapi cukup rapi, tidak lusuh, sebuah celana pendek di atas lutut dan kaos oblong berwarna coklat, tidak ada tanda-tanda bahwa dia baru saja melakukan pekerjaan yang sangat membuat dia payah, wajahnya bersih tidak kusam tanpa keringat, dan tidak ada bau badan menyengat dari tubuhnya. Hati kecilku berkata “anak ini sedang berusaha membohongiku…”. Aku sama sekali tidak marah, hanya justru merasa miris.. pikiranku mulai meraba-raba keberadaan orangtuanya, apa yang mereka ajarkan pada anak ini, sejauh apa mereka memberi perhatian pada anak  mereka, tahukah mereka bahwa anaknya kini sedang membohongi seseorang demi mendapatkan mungkin selembar uang lima ribuan. Tapi sekali lagi, ini masih rangkuman dari hasil analisa bakat intelegenku yang terpendam, belum terbukti, hehehe..

 
Hingga ketika motorku mendekati sebuah pintu gerbang perumahan BTN, anak itu berkata..”di sini ma qi om” aku pun menghentikan motorku.. dan memberi kesempatan dia turun. “di mana rumahmu?” aku berusaha memancing dia. “di dalam ka”. Bahasa tubuh anak ini sudah mulai menunjukkan kekakuan, mungkin karena sekarang dia berbicara sambil berhadapan muka denganku, tidak seperti ketika dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku sewaktu dia masih kubonseng berada di belakangku. “ya sudah, om jalan ya…” aku sengaja tidak langsung memutar gas motorku karena menunggu respon anak ini mengungkapkan (lebih tepatnya membuktikan) sangkaanku. Tapi karena tidak mungkin aku berlama-lama dan harus segera sampai di rumah, aku mulai memutar gas motorku, tapi tiba-tiba dia bersuara..
“om.. kasih ka’ uang ta’ kodong” nah, ini bukti yang kutunggu-tunggu. ”kenapa …?” Aku pura-pura tidak mendengar jelas. Sehingga dia mengulangi kembali perkataannya “kasih ka’ dulu uang ta’ kodong, belum pa’ makan”. “kamu belum makan?” aku bertanya. “belum, kasih ka’ uang ta’ mau beli makan”. “Ayo kubelikan makan, makan ko nanti sampe kenyang, terus saya antar sampe ke rumahmu.. di sebelah mana rumahmu di dalam situ?” aku berharap dia mau mengikuti ajakanku, dengan demikian analisa intelegenku yang tadi menjadi salah.

 
Tapi justru anak ini melangkah menjauh sambil berkata” jangan mi om..”. “kenapa… ayo makan sama om, terus kuantar ko pulang”. Dia semakin melangkah menjauh ke arah di mana kami berangkat tadi sambil berkata “jangan mi om, bohong-bohong ja’ tadi..minta maaf ka”. Saya tersenyum tanpa makna mendengar pengakuannya. Sambil menatap teduh ke arah wajah anak ini, yang membuat dia semakin merasa bersalah. Dia ulangi lagi perkataannya “minta maaf ka’ om, bukan di sini rumahku, bohong ja’ tadi” dan langsung setengah berlari menjauh. Akupun segera meninggalkan tempat itu dan menuju pulang.

 
Mungkin anak itu tumbuh dari keluarga yang tidak mampu, yang tidak memungkinkan dia menerima uang jajan dari orangtuanya.. tapi apakah itu sebuah permakluman yang kemudian kita tidak menganggap perbuatan itu salah. Kalau demikian halnya, bagaimana nasib bangsa kita ini.. bukankah lebih dari separuh penduduk kita berdiri di atas garis kemiskinan, dan ironisnya merekalah yang memiliki laju pertumbuhan tinggi karena rata-rata justru mereka lebih memiliki rasa tawakkal yang tinggi daripada orang-orang yang mampu secara finansial, mereka tidak takut untuk memiliki anak. Dan apakah jika itu adalah sebuah permakluman, apakah jika suatu hari Allah menguji kita dengan kesempitan, maka kita akan mengijinkan atau bahkan mengajarkan anak-anak kita dengan hal serupa itu.

 
Miskin adalah sebuah ujian, bukan merupakan sebuah alasan untuk bisa memilih jalan-jalan pintas. Anak adalah harta berharga yang di amanahkan oleh Allah (Tuhan) kepada kita untuk kita lestarikan pribadinya, kita pupuk karakternya, dan kita kembangkan potensinya. Tapi tidak semua orangtua  memahami hal ini, baik dari kalangan menengah ke bawah ataupun golongan atas. Kisah pertemuan yang saya alami di atas hanyalah salah satu contoh dari hasil salah asuhan yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.. tapi banyak bisa kita temukan hasil produk salah asuhan yang keluar dari golongan atas. Bisa saja hasilnya adalah, anak-anak yang brutal, anarkis, depresi, bunuh diri, possesive, serta penyimpangan-penyimpangan kepribadian lainnya. Semua penyimpangan kepribadian ini tidak muncul begitu saja dalam kisaran seminggu atau dua minggu sebelum tragedi klimaks dari sebuah penyimpangan kepribadian. Semua berawal dari tatanan asuh yang diterima anak dari masa 5 tahun pertama usia kehidupannya.

 
5 tahun pertama usia kehidupan ini disebut juga “golden age” (usia emas). Tidak berlebihan saya rasa, sebutan usia emas ini karena di sanalah masa-masa dimana semua pondasi karakter, sikap, kepribadian dibentuk oleh lingkungan di mana dia tumbuh. Sentuhan, ucapan, contoh perbuatan yang ditangkap oleh panca inderan seorang anak pada masa itu akan tertanam kuat dalam alam bawah sadar dan dimaknai sebagai sebuah kebenaran mutlak. Bahkan alam bawah sadar ini sangat terbuka lebar pada usia 1-3 tahun.  Jadi berhati-hatilah wahai para orangtua, dalam mengasuh anak-anak Anda, karena apapun mereka jadinya nanti ketika remaja maka itu adalah hasil dari sentuhan kita pada masa dini mereka.

One response to this post.

  1. Posted by firdaus hafid on Januari 21, 2012 at 9:31 pm

    Sy mengalami kejadian berulang kali, seorang anak meminta menumpang untuk ikut persis spt cerita di atas. Awalnya setelah mendengarkan cerita kehidupan keluarganya yg sangat menyedihkan, sy memberi selembar uang 50 rupiah dan dia belari begitu gembira menjauhi saya. Sy mulai berfikir mungkinkah anak sekecil itu membohongi saya dan membuat sy ingin mengetahui lebih jauh. Setiap sy lewati jalan tersebut sy sering menemukan anak tersebut melakukan hal spt cerita di atas. Sy ceritakan kejadian tsb pada istri dan dia mengalami hal yg sama. Sy mencoba untuk memberi tumpangan setiap mendapatinya dijalan. Hasilnya cerita yg sama keluar dari mulut anak itu dan kami berkesimpulan Anak itu telah didik dgn skenario ‘kebohongan’ untuk mendapatkan uang dgn cepat. Sy hanya bisa menasehatinya dan meminta dia menyampaikan nasehat sy itu kepada orang yg menyuruhnya berbuat seperti itu. Thanks

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: